Ada yang mengatakan, reuni itu bukan sekadar bertemu teman lama. Reuni adalah ajang memastikan siapa yang rambutnya masih setia, siapa yang sudah hijrah ke ubun-ubun, dan siapa yang tetap awet muda—setidaknya menurut pengakuannya sendiri.
Begitulah suasana Reuni Akbar Alumni PTD, IPD, ISID, dan UNIDA Gontor dalam rangka Milad ke-63 UNIDA Gontor dan Peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor pada Ahad (12/07/26) di Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM) Darussalam Gontor. Suasananya hangat, akrab, penuh canda, dan tentu saja sarat kenangan. Bagi alumni ISID Kampus Pusat (Siman), pertemuan di UNIDA Gontor Kampus Pusat dan BPPM Gontor menjadi momen yang sangat mengasyikkan sekaligus berkesan.

Memang, jumlah alumni ISID Kampus Siman yang hadir kali ini tidak sebanyak reuni pada peringatan 90 Tahun Gontor tahun 2016 lalu. Namun, kehangatan pertemuan sama sekali tidak berkurang. Sebab, yang mempertemukan kami bukan semata undangan, melainkan rahmah—kasih sayang yang telah tumbuh dan terawat sejak masa menjadi mahasiswa.

Kasih sayang itu lahir dari perjalanan panjang yang ditempa dalam kebersamaan: satu dapur, satu nampan, satu rayon, satu jemuran, satu kamar, satu lapangan, satu masjid, satu halaqah, satu kelas, satu jurusan, satu fakultas, satu kampus, bahkan sering kali satu nasib dan satu perjuangan. Kebersamaan itulah yang menjadikan hubungan antarsesama alumni bukan sekadar pertemanan, melainkan persaudaraan.
Dalam obrolan ringan bersama beberapa sahabat, terungkap bahwa berkurangnya jumlah alumni ISID yang hadir pada Milad ke-63 UNIDA dan Peringatan 100 Tahun Gontor bukan karena berkurangnya semangat atau rasa memiliki. Justru sebaliknya. Rangkaian kegiatan peringatan 100 Tahun Gontor yang diselenggarakan secara beragam, variatif, dan berkesinambungan telah mendorong banyak alumni untuk lebih dahulu menghadiri berbagai agenda yang menjadi bagian dari perayaan tersebut. Di antaranya adalah Sarasehan Kiai Pondok Pesantren Alumni Gontor, pertemuan para mubaligh alumni, serta berbagai kegiatan lainnya yang mempererat ukhuwah dan memperkuat kontribusi alumni bagi umat dan bangsa.

Hal itu sangat wajar, mengingat sekitar 90 sd 95 persen mahasiswa ISID pada masa itu merupakan alumni KMI Gontor yang kini mengabdikan diri dan berjuang di berbagai bidang: pesantren, pendidikan, dakwah, pemerintahan, dunia usaha, hingga berbagai sektor pengabdian lainnya.
Selain itu, jadwal reuni juga bertepatan dengan dimulainya tahun ajaran baru di pesantren, madrasah, dan sekolah. Banyak alumni yang memegang amanah sebagai pimpinan, pengasuh, kepala sekolah, dosen, maupun guru sehingga sulit meninggalkan tempat tugas pada saat-saat yang sangat menentukan tersebut. Inilah salah satu alasan mengapa sebagian alumni Kampus Siman belum dapat hadir dalam momentum bersejarah ini.

Meski demikian, semangat untuk bersilaturahmi tidak pernah surut. Bahkan ada beberapa sahabat yang tetap datang meskipun baru saja berkunjung ke UNIDA Gontor dan Pondok Modern Darussalam Gontor pada akhir Juni hingga awal Juli 2026. Bagaimanapun juga, peringatan 100 Tahun Gontor adalah momentum yang sangat monumental dalam sejarah perjalanan Pondok Modern Darussalam Gontor. Rasanya sayang jika kesempatan berjumpa dengan sahabat-sahabat lama dilewatkan begitu saja.
Boleh jadi, yang paling dirindukan bukan sekadar acara resminya, melainkan momen-momen sederhana yang tak pernah lekang oleh waktu: obrolan tanpa agenda, tawa yang pecah karena mengenang cerita-cerita lama, serta saling mengingatkan nama teman yang nyaris terlupa. Kenangan itu kemudian mengalir menjadi perdebatan klasik tentang siapa yang dahulu paling rajin mengikuti perkuliahan, paling istiqamah melaksanakan salat berjamaah di masjid, paling tekun menghadiri kajian pagi dan pengajian kitab kuning, paling disiplin berolahraga pagi dan sore, paling setia “mejeng” di depan gerbang ISID setiap pagi dan petang, paling bersemangat bermain sepak bola, paling antusias menyaksikan liga-liga sepak bola dunia di televisi, hingga siapa yang paling sering menitip tauqi, pandai mencari alasan untuk tidak masuk kuliah, atau menghindari kajian-kajian di serambi masjid. Semua kisah itu, betapapun sederhana, justru menjadi kenangan yang paling sering menghadirkan senyum, menghangatkan hati, dan mempererat kembali tali persaudaraan di antara para alumni.

Yang jelas, rahmah yang tertanam selama bertahun-tahun tetap hidup di dalam hati. Kerinduan untuk bertemu, bersilaturahmi, berbincang, bertukar pengalaman, dan saling menguatkan tidak pernah benar-benar hilang. Justru setiap reuni membuat ikatan persaudaraan itu semakin kokoh.
Peringatan 100 Tahun Gontor pun belum usai. Masih banyak rangkaian kegiatan yang akan berlangsung hingga puncak perayaan pada bulan September 2026. Semoga Allah SWT mempertemukan kembali seluruh alumni ISID dalam acara puncak Peringatan 100 Tahun Gontor nanti, mempererat ukhuwah, menambah keberkahan, serta menjaga rahmah yang telah diwariskan oleh almamater tercinta. Amin ya Rabbal ‘alamin. [Pradi Khusufi Syamsu]