April 16, 2026
WhatsApp Image 2025-09-07 at 05.43.28

Nyawang Bulan adalah frasa dalam Bahasa Sunda yang berarti melihat bulan atau memandang bulan. Istilah ini juga digunakan untuk menyebut sebuah atraksi wisata budaya di desa-desa Sunda, yang umumnya diadakan setiap malam bulan purnama.

Yayasan Rancage Manunggal Rasa Akhalakul-Karimah gelar tradisi budaya Sunda nyawang bulan di Kebun Raya Bogor pada Senin (08/09/25) malam. Kegiatan Nyawang Bulan bertujuan untuk melestarikan budaya Sunda, menghormati alam dan siklus kehidupan, serta sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta. Kegiatan Nyawang Bulan ditandai dengan Pameran seni, pertunjukan tradisional, pertukaran uang kertas dengan koin untuk membeli makanan dan minuman tradisional, serta edukasi nilai-nilai budaya Sunda.

“Pagelaran nyawang bulan sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah ta’ala dan untuk melestarikan budaya Sunda, serta menghormati alam dan siklus kehidupan,” terang Ketua Yayasan Rancage Manunggal Rasa Akhalakul-Karimah Kyai Ahmad Tavip Budiman SAg MSi.

Kegiatan Nyawang Bulan ini diikuti oleh 50 peserta dari berbagai komunitas seni budaya kota dan kabupaten Bogor. Para kasepuhan Sunda (kokolot Bogor) yang hadir antara lain: Kyai Ahmad Tavip Budiman SAg MSi, Ki Bambang Somantri, Ki Yayat odoy SE Msi, Ki Tjetjep Toriq SE, Ki Dalang Ceceng Arifin SE, Ki Deni  DJ, Ki Dr Yanyan, Ki Eko F, Ki  M Nasir, Ki Wawan, Ki Ijar CB, General Manajer  (GM -KRB ) Zaenal beserta rekan, Direktur MNR, Kadisparbud Kota Bogor, dan Keluarga besar pamong budaya.

Lebih lanjut, Kyai Tavip menjelaskan, kegiatan Nyawang Bulan  dilaksanakan secara rutin dengan  memilih tempat yang bersejarah. Kegiatan Nyawang Bulan ini diawali zikir bersama dan do’a memohon kepada Allah SWT untuk kemakmuran bangsa Indonesia serta bersyukur atas segala nikmat dan rahmat-Nya. Kegiatan ini juga diramaikan dengan pentas budaya dan seni musik yang langka seperti  tarawangsa, kecapi jentreng, kecapi, suling, karinding, dan celempung guna menambah nuansa malam itu semakin meresap ke dalam jiwa, raga  dan rasa menyatu  menjadi sebuah persembahan rasa Syukur yang dalam  di keheningan malam.

“Acara dimulai dengan bertawasul, zikir bersama serta berdo’a memohon kepada Allah swt untuk kemakmuran bangsa Indonesia serta bersyukur atas nikmat,” ujar alumni Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) tahun 1989.

Ki Tjetjep Toriq budayawan Kota Bogor menambahkan, kegiatan Nyawang Bulan juga sangat tepat dimanfaatkan untuk mengajak seluruh  masyarakat  bersama sama membangun bangsa lewat Budaya.

“Nyawang Bulan mengingatkan masyarakat bahwa budaya menjadi elemen penting dalam membangun bangsa,” ujarnya.  

Sementara Ki Yayat Odoy menuturkan, kegiatan Nyawang Bulan adalah di mana keseimbangan alam menyatu bulan bersinar terang. Cahaya terang bulan menginspirasi agar dapat menerangi hati agar kokoh dan istiqamah, jauh dari kebingungan.

“Kegiatan Nyawang Bulan menyatu dengan alam di saat bulan bersinar terangagar hati senantiasa terang,” jelasnya.

Kegiatan Nyawan Bulan terlaksana berkat kerjasama Yayasan Rancage Manunggal Rasa Akhalakul-Karimah dengan Kebun Raya bogor, Kreasi Jingga (Bu Dewi), dan Ika Kartika (Artis Sinetron).

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *