July 20, 2026
KH Akrim Mariyat: Jangan Pernah Berhenti Belajar

Gelora semangat menuntut ilmu kembali menggema dalam Reuni Akbar Alumni PTD, IPD, ISID, dan Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor yang diselenggarakan dalam rangka Milad ke-63 UNIDA Gontor dan Peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor. Kegiatan yang berlangsung di Gedung BPPM Baru Pondok Modern Darussalam Gontor pada Ahad (12/7/2026) itu mempertemukan alumni lintas generasi dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara.

Di hadapan para alumni, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, Drs. K.H. M. Akrim Mariyat, Dipl.A.Ed., menegaskan bahwa jati diri seorang alumni Gontor tidak hanya ditentukan oleh almamater yang disandang, tetapi terutama oleh komitmennya untuk terus belajar sepanjang hayat.

“Jangan pernah berhenti belajar,” pesannya dengan penuh penekanan.

Bagi Kiai Akrim, pesan tersebut bukan sekadar ajakan, melainkan ruh pendidikan yang sejak awal ditanamkan Pondok Modern Darussalam Gontor kepada setiap santri. Proses belajar, menurutnya, tidak berhenti ketika seseorang meninggalkan bangku pesantren atau perguruan tinggi. Justru kehidupan di tengah masyarakat menjadi ruang belajar yang lebih luas untuk memperkaya ilmu, pengalaman, dan hikmah.

Kiai kelahiran Ponorogo, 26 Agustus 1948, menjelaskan bahwa sistem pendidikan Gontor sejatinya telah menerapkan konsep lifelong education atau pendidikan sepanjang hayat jauh sebelum istilah tersebut dikenal luas dalam dunia pendidikan modern. Sebagai lembaga pendidikan Islam, Gontor berpijak pada ajaran Islam yang memandang menuntut ilmu sebagai kewajiban sepanjang hayat.

Karena itu, alumni diharapkan tidak pernah merasa cukup dengan ilmu yang telah dimiliki. Mereka dituntut untuk terus mengembangkan kapasitas diri melalui pendidikan formal, nonformal, maupun informal, sekaligus terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan perubahan zaman.

“Teruslah belajar di manapun kalian berada,” ujar alumnus Manchester University (1977) tersebut.

Dalam kesempatan itu, dosen ISID—kini UNIDA Gontor—sejak 1977 tersebut juga mengulas relevansi sistem pendidikan Gontor dengan perkembangan pendidikan global. Ia menjelaskan bahwa jauh sebelum UNESCO memperkenalkan empat pilar pendidikan melalui laporan Learning: The Treasure Within (1996), Pondok Modern Darussalam Gontor telah lebih dahulu mengimplementasikan nilai-nilai tersebut dalam praktik pendidikannya.

Empat pilar pendidikan tersebut meliputi learning to know (belajar untuk mengetahui), learning to do (belajar untuk melakukan), learning to live together (belajar untuk hidup bersama), dan learning to be (belajar untuk menjadi). Menurutnya, seluruh pilar itu telah lama mewarnai kehidupan santri melalui sistem pendidikan Gontor yang berlangsung selama 24 jam, baik di ruang kelas, asrama, masjid, organisasi pelajar, kegiatan ekstrakurikuler, maupun dalam dinamika kehidupan sehari-hari di lingkungan pondok.

Lebih dari sekadar mentransfer pengetahuan, Gontor membangun karakter, kepemimpinan, kemandirian, disiplin, ukhuwah Islamiyah, dan semangat pengabdian kepada umat. Pendidikan yang memadukan aspek intelektual, spiritual, moral, dan sosial tersebut menjadi fondasi lahirnya kader-kader umat yang siap mengabdi di berbagai bidang kehidupan.

Menurut alumnus Kulliyatul Mu’allimin al-Islamiyyah (KMI) Pondok Modern Darussalam Gontor tahun 1968 itu, semangat belajar yang terus dipelihara merupakan bentuk nyata menjaga amanah pendidikan Gontor. Alumni yang senantiasa meningkatkan kompetensi diri akan tetap relevan menghadapi dinamika zaman tanpa kehilangan nilai-nilai keislaman dan kepesantrenan yang menjadi fondasi kehidupannya.

Mengakhiri sambutannya, Kiai Akrim menegaskan bahwa sistem pendidikan Pondok Modern Darussalam Gontor telah terbukti memiliki visi yang melampaui zamannya. Berbagai konsep pendidikan modern yang kini banyak diperbincangkan sesungguhnya telah lama dipraktikkan secara nyata dalam kehidupan pondok.

“Apa yang telah diterapkan oleh Pondok Modern Darussalam Gontor dalam bidang pendidikan sudah tepat, bahkan telah melampaui zamannya,” pungkasnya.

Pesan tersebut menjadi pengingat bagi seluruh alumni bahwa rasa syukur sebagai bagian dari keluarga besar Pondok Modern Darussalam Gontor tidak cukup diwujudkan melalui kebanggaan dan ikatan emosional semata. Rasa syukur itu harus tercermin dalam komitmen untuk terus belajar sepanjang hayat, mengembangkan kapasitas diri, serta mengabdikan ilmu, tenaga, dan pemikiran demi kemaslahatan umat, kemajuan bangsa, dan tegaknya peradaban Islam.  [Pradi Khusufi Syamsu]

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *