Oleh: Pradi Khusufi Syamsu (Dosen Prodi PJJ PBA UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon)
Ungkapan ‘jadilah diri sendiri’ adalah slogan yang sangat akrab di telinga kita. Ia kerap digaungkan sebagai semboyan kebebasan, kejujuran, dan keaslian diri. Bahkan, tidak jarang kalimat ini dijadikan apology atau pembelaan diri ketika seseorang dikritik atas perilaku, sikap, atau keputusan hidupnya. Seolah-olah dengan mengucapkan kalimat itu, setiap tindakan—apa pun bentuknya—menjadi sah dan tak boleh dipersoalkan.
Sekilas, ungkapan ini terdengar memesona. Ia mencitrakan pribadi yang mandiri, berani, dan memiliki visi hidup sendiri. Namun di balik pesonanya, ‘jadilah diri sendiri’ bisa menjadi pisau bermata dua. Ia bisa mengangkat martabat manusia, tetapi juga berpotensi mencelakakan pelakunya jika dipahami secara serampangan. Tidak jarang kalimat ini justru menjadi tameng bagi kemalasan berpikir, pembenaran atas perilaku menyimpang, atau legitimasi atas sikap yang bertentangan dengan norma sosial dan nilai agama.
Fenomena ini kerap kita temui di kalangan kaum muda yang sedang berada pada fase pencarian jati diri. Masa muda dipersepsikan sebagai masa bebas nilai. Bebas mencoba apa saja, bebas melakukan kesalahan, bahkan bebas dari tanggung jawab moral dan spiritual. Seakan-akan dosa bisa ditunda pertanggungjawabannya, dan nasihat boleh dinafikan dengan alasan, ‘namanya juga anak muda’.
Epistemologi Diri
Dalam perspektif Islam, ungkapan ‘jadilah diri sendiri’ tidak boleh berdiri di ruang hampa. Ia harus memiliki pijakan epistemologis—basis ilmu yang benar dan dibenarkan. Sebab, Islam tidak memisahkan antara kebebasan dan kebenaran. Ketika sebuah prinsip hidup dibangun di atas ilmu yang sahih, maka prinsip itu akan melahirkan kemaslahatan. Namun jika ia dilepaskan dari ilmu dan nilai, maka ia justru menyesatkan.
Allah Ta‘ala berfirman:
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban. (QS. Al-Isra’: 36)
Ayat ini menegaskan bahwa setiap pilihan hidup harus melewati proses pengetahuan dan kesadaran, bukan sekadar dorongan emosi atau selera pribadi. Maka, menjadi diri sendiri sejatinya adalah proses menemukan diri yang sesuai dengan fitrah, bukan menuruti hawa nafsu.
Tanpa basis ilmu yang benar, ungkapan ini tidak akan pernah mengantarkan seseorang kepada ‘diri yang sejati’. Bahkan sebaliknya, ia bisa membuat seseorang terasing dari fitrahnya sendiri. Padahal Allah telah menegaskan:
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. (QS. Ar-Rum: 30)
Fitrah manusia adalah menjadi hamba Allah sekaligus khalifah di muka bumi. Ia memikul tanggung jawab individual, sosial, bahkan institusional sesuai peran yang diembannya. Karena itu, kebebasan dalam Islam selalu berjalan beriringan dengan amanah.
Sungguh merupakan sebuah kebodohan dan kenestapaan ketika seseorang menjadikan ‘jadilah diri sendiri’ sebagai inspirasi hidup tanpa proses berpikir, perenungan, dan pencarian landasan keilmuan. Kebebasan tanpa ilmu hanyalah ilusi yang menipu.
Meneguhkan Kiblat Diri
Setiap manusia idealnya memiliki kiblat diri—arah rujukan dalam berpikir, berkata, dan berperilaku. Sejarah panjang umat manusia menunjukkan bahwa tidak semua tokoh dan teladan layak dijadikan acuan. Banyak manusia hidup sebelum kita, namun hanya sedikit yang Allah berikan jaminan keselamatan dan kebenaran jalan hidupnya.
Allah Ta‘ala berfirman:
Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat serta banyak mengingat Allah. (QS. Al-Ahzab: 21)
Nabi Muhammad ﷺ adalah satu-satunya manusia yang dijamin layak menjadi kiblat hidup, bukan hanya dalam urusan dunia, tetapi juga akhirat. Siapa pun yang mengikuti beliau akan mendapatkan kebahagiaan sejati. Rasulullah ﷺ bersabda:
Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara. Kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh kepada keduanya: Kitabullah dan sunnahku. (HR. Malik)
Beliau juga menegaskan pentingnya mengikuti jejak para Khulafaur Rasyidin:
Wajib atas kalian berpegang pada sunnahku dan sunnah para khulafaur rosyidin yang mendapat petunjuk setelahku. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Bahkan Rasulullah ﷺ mengibaratkan para sahabatnya seperti bintang-bintang di langit, yang dapat menjadi penunjuk arah dalam mengarungi samudra kehidupan. Maka, mengikuti para sahabat dengan sendirinya akan mendapatkan petunjuk, akan mendapatkan hidayah, serta mendapatkan arahan. Ini menegaskan bahwa menjadi diri sendiri dalam Islam bukan berarti menolak teladan, tetapi memilih teladan yang benar.
Akhir Kalam
Ungkapan ‘jadilah diri sendiri’ tanpa epistemologi yang benar dan kiblat yang presisi tidak akan melahirkan manfaat, melainkan mudarat. Ia bisa berubah menjadi kalimat yang tampak benar, tetapi digunakan untuk membenarkan kebatilan (kalimatu haqqin yurâdu bihâ bâthilun). Sebuah kebenaran yang dicabut dari nilai dan ditelan mentah-mentah tanpa penimbangan hati dan akal sehat.
Maka, menjadi diri sendiri yang sejati adalah menjadi diri yang selaras dengan fitrah, dibimbing oleh ilmu, dan diarahkan oleh wahyu. Bukan diri yang bebas tanpa batas, melainkan diri yang merdeka dalam ketaatan dan bertanggung jawab di hadapan Allah Ta‘ala.