May 1, 2026
Senyum, Ilmu, dan Kepedulian: Kenangan Mahasiswa Ushuluddin Bersama Ustadz Amal

Oleh: Pradi Khusufi Syamsu (Alumnus ISID Program Sarjana Strata 1 Pada Wisuda Sarjana XV)

Kami, mahasiswa Fakultas Ushuluddin Kampus Siman yang pernah mendapatkan bimbingan langsung dari Ustadz Amal, menyimpan kesan yang sangat mendalam terhadap sosok beliau. Ustadz Amal dikenal sebagai pendidik yang teduh, bijaksana, dan penuh ketenangan. Dalam proses perkuliahan, hampir tidak pernah kami melihat beliau menunjukkan kemarahan. Sebaliknya, setiap pertemuan selalu diawali dengan senyum—senyum yang menenangkan dan mendidik.

Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi kami terjadi ketika beberapa mahasiswa datang terlambat ke kelas karena harus memfotokopi dan memperbanyak makalah yang akan dipresentasikan. Dalam situasi seperti itu, yang kami temui bukanlah teguran keras atau nada tinggi, melainkan senyum tulus dari beliau. Sikap ini membuat kami terdiam sekaligus terharu. Di tengah kewajiban akademik yang harus kami tunaikan, beliau tetap menunjukkan pengertian dan kelapangan hati yang luar biasa.

Kepedulian Ustadz Amal tidak berhenti di ruang kelas. Dalam mata kuliah yang beliau ampu, beliau berusaha memudahkan mahasiswa dalam mengakses buku-buku rujukan utama. Beliau meminta staf administrasi ISID untuk memfotokopi dan memperbanyak buku referensi perkuliahan, yang kemudian dapat kami ambil di bagian administrasi. Bahkan, pembayaran dapat dilakukan belakangan, setelah kami menerima wesel. Bagi kami, ini bukan sekadar kemudahan teknis, melainkan wujud nyata kepedulian seorang guru terhadap keberlangsungan proses belajar mahasiswanya.

Tak jarang pula, setiap kali beliau pulang dari perjalanan atau berkunjung ke toko buku, Ustadz Amal membawa beberapa buku untuk diletakkan di kantor Fakultas Ushuluddin. Buku-buku tersebut dapat kami baca dan manfaatkan bersama di ruang dekan. Sikap ini mencerminkan kecintaan beliau terhadap ilmu sekaligus kepedulian yang tulus terhadap perkembangan akademik mahasiswa.

Kecintaan Ustadz Amal kepada mahasiswa ISID, khususnya di Kampus Siman, juga tampak jelas dalam berbagai kesempatan resmi. Salah satunya dalam sambutan beliau di depan Gedung Utama ISID. Dalam kesempatan itu, beliau menyayangkan adanya sikap sebagian pihak kala itu yang kurang memahami tujuan awal pendirian Gontor. Menurut beliau, adanya pandangan sebelah mata terhadap ISID, tidak sejalan dengan cita-cita luhur Trimurti.

Beliau menegaskan bahwa tujuan besar Trimurti dalam mendirikan Gontor adalah melahirkan sebuah universitas Islam. Oleh karena itu, mahasiswa yang diharapkan mampu mewujudkan cita-cita tersebut adalah mereka yang menempuh pendidikan secara akademik di Kampus Siman atau kampus pusat. Pandangan ini menunjukkan keberpihakan beliau terhadap masa depan keilmuan dan universitas Islam yang beradab.

Alhamdulillāh, waktu telah membuktikan kejernihan pandangan tersebut. ISID kini telah bertransformasi. Sejak 14 Juli 2014, ISID resmi berubah menjadi Universitas Darussalam Gontor (UNIDA Gontor)—sebuah universitas Islam sebagaimana yang dicita-citakan para pendiri Gontor, Trimurti. Perubahan ini bukan sekadar pergantian nama dan status, melainkan peneguhan arah: bahwa Gontor memang ditakdirkan untuk melahirkan institusi pendidikan tinggi Islam yang kokoh secara keilmuan, matang secara akademik, dan beradab dalam pengelolaannya. Dalam konteks inilah, pemikiran, keberpihakan, dan kepedulian Ustadz Amal menemukan relevansinya—seolah menjadi bagian dari mata rantai panjang perjuangan menuju terwujudnya universitas Islam yang diimpikan sejak awal.

Hari Sabtu, 3 Januari 2026, kabar duka datang dari Gontor dengan sunyi namun menghunjam: Ustadz Amal telah berpulang. Kepergian beliau meninggalkan kehilangan yang mendalam, tidak hanya bagi keluarga tercinta, tetapi juga bagi keluarga besar Pondok Modern Darussalam Gontor serta dunia akademik Indonesia. Sosok yang selama ini dikenal teduh, penuh senyum, dan kaya kepedulian itu kini telah kembali kepada Allah ta’ala.

Ustadz Amal adalah guru besar tetap pertama Universitas Darussalam Gontor, sekaligus profesor pertama yang dikukuhkan di UNIDA Gontor pada tahun 2014, dalam bidang Ilmu Kalam dan ‘Aqidah Islam. Jejak keilmuan dan keteladanan beliau bukan sekadar tercatat dalam dokumen sejarah universitas, tetapi hidup dalam ingatan para murid, kolega, dan generasi yang pernah disentuh oleh ilmu serta akhlaknya.

Pada akhirnya, kenangan tentang Ustadz Amal tidak berhenti sebagai catatan akademik semata. Ia hidup sebagai teladan tentang makna mendidik dengan hati. Ketulusan senyum beliau, keluasan ilmunya, dan kepeduliannya yang nyata akan senantiasa terpatri dalam ingatan kami, mahasiswa Ushuluddin Kampus Siman.

Selamat jalan guru kami, dosen kami, Ustadz Amal. Selamat berjumpa dan berkumpul bersama para nabiyyīn, ṣiddīqīn, syuhadā’, dan ṣāliḥīn. Doa kami mengiringi kepergianmu—semoga Allah membalas seluruh pengabdian dan kasih sayangmu dengan sebaik-baik balasan. Āmīn…

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *