May 22, 2026
Ustadz Amal dan Bahasa Arab Fuṣḥā

Oleh: Pradi Khusufi Syamsu (Alumnus ISID Program Sarjana Strata 1 Pada Wisuda Sarjana XV)

Prof. Dr. KH. Amal Fathullah, MA—yang akrab kami sapa Ustadz Amal—adalah salah satu dosen yang meninggalkan kesan mendalam bagi kami semasa menempuh studi di Fakultas Ushuluddin ISID Gontor. Sosok beliau dikenal sebagai pendidik yang sangat konsen, apresiatif, dan penuh kepedulian terhadap perkembangan akademik mahasiswa, khususnya dalam penguasaan bahasa Arab fuṣḥā.

Menariknya, meskipun Ustadz Amal bukan dosen mata kuliah Bahasa Arab atau ilmu-ilmu kebahasaaraban, beliau justru sangat tegas dalam menanamkan pentingnya bahasa Arab sebagai bahasa ilmu. Dalam mata kuliah yang beliau ampu dan bimbing secara langsung—seperti Ilmu Kalam dan Filsafat Islam—kami diwajibkan menulis makalah atau artikel sepenuhnya dalam bahasa Arab fushā.

“Tulislah dengan bahasa Arab yang benar, dan rujuklah langsung kepada kitab-kitab aslinya,” demikian kurang lebih penekanan beliau setiap kali menjelaskan tugas makalah.

Jumlah mahasiswa Fakultas Ushuluddin di kampus Siman saat itu relatif sedikit. Konsekuensinya, presentasi makalah dilakukan secara individu, bukan berkelompok. Tentu saja ini bukan perkara ringan. Dibutuhkan usaha ekstra dan kesungguhan intelektual. Namun justru di situlah nilai akademiknya terasa sangat besar.

Dalam berbagai kesempatan, terutama ketika menyampaikan hal-hal penting dan prinsipil, Ustadz Amal hampir selalu menggunakan bahasa Arab fuṣḥā. Bahkan kami masih mengingat dengan jelas sebuah momen dalam forum resmi di depan Gedung Utama ISID Gontor. Beliau menyampaikan sambutan yang menekankan pentingnya mahasiswa menyelesaikan studi S1 di ISID. Hal ini beliau sampaikan karena realitas saat itu, sebagian besar mahasiswa adalah alumni KMI Gontor yang menjalani masa pengabdian, dan mayoritas hanya menempuh satu tahun studi di ISID sebagai syarat pengambilan ijazah KMI.

Ada pula satu kisah yang hingga kini masih mengundang senyum dan tawa ringan. Pada tahun pertama kuliah, Ustadz Amal memberikan sambutan pembukaan ujian akhir semester. Dengan nada persuasif dan penuh keyakinan, beliau menyatakan bahwa ISID adalah perguruan tinggi terbaik untuk jenjang S1—bahkan, menurut beliau, lebih unggul daripada banyak perguruan tinggi di Timur Tengah.

“Fī ISID, antum mulzamūna ‘alā kitābati ar-risālah bi al-‘Arabiyyah aw al-Injīliyyah. Wa hādzā lā yujadu fī katsīrin min al-jāmi‘āt,” terang beliau.

Memang, mahasiswa ISID diwajibkan menulis risalah atau skripsi dalam bahasa Arab atau bahasa Inggris. Ketentuan ini tidak banyak diterapkan di perguruan tinggi lain pada jenjang strata satu. Bahkan, menurut beliau, pada umumnya perguruan tinggi pada jenjang strata satu di Timur Tengah yang tidak mewajibkan penulisan skripsi sama sekali.

Namun yang paling membekas justru penutup sambutannya. Dengan logat Jawa khas beliau, Ustadz Amal berkata sambil tersenyum,

“An tu’minū bī,”tegas beliau.

Spontan kami—para mahasiswa yang berdiri di depan Gedung Utama ISID—tersenyum dan tertawa ringan. Tawa itu bukan karena tidak percaya, melainkan karena uslūb yang beliau gunakan sama sekali di luar dugaan. Uslūb “an tu’minū bī” mengingatkan kami pada masa-masa awal belajar hadis di KMI Gontor. Ungkapan itu sederhana, namun membekas dan terasa sangat menyentuh.

Masih banyak ungkapan dan kalimat bahasa Arab fuṣḥā yang beliau sampaikan, baik dalam forum resmi maupun di ruang kelas. Terutama ketika beliau menekankan poin-poin penting perkuliahan—an-nuqā al-jawhariyyah— atau kalimat penutup perkuliahan, bahasa Arab menjadi pilihan utama beliau.

Hal ini tidak mengherankan. Ustadz Amal dikenal sangat dekat dengan buku-buku berbahasa Arab. Latar belakang pendidikan magister beliau di Fakultas Darul Ulum, Universitas  Kairo, Mesir, semakin menguatkan kecintaan tersebut. Karya magnum opus beliau pun ditulis dalam bahasa Arab, di antaranya ‘Ilmu al-Kalām dan al-Ittijāh al-Salafī fī al-Fikr al-Islāmī al-adīts wa al-Mu‘āir: Indūnīsiyā Anmūdzajan.

Jika menyimak majelis atau pertemuan beliau, hampir semua pernyataan penting disampaikan dengan bahasa Arab yang hidup—bahasa Arab yang lahir dari pergaulan intens dengan buku-buku berbahasa Arab. Ini menandakan bahwa beliau bukan sekadar pengajar, tetapi seorang pecinta ilmu yang setia bersahabat dengan buku.

Bagi kami, keteladanan Ustadz Amal menjadi motivasi sekaligus inspirasi bahwa belajar bahasa Arab, merawatnya, dan terus meningkatkannya dapat dilakukan melalui pergaulan yang konsisten dengan buku-buku berbahasa Arab (khairu jālisin fī az-zamāni kitābun). Terlebih bagi kami yang kini tidak lagi tinggal di lingkungan yang menjaga kebiasaan berbahasa Arab. Dengan cara itulah bahasa Arab yang telah kami pelajari tetap terjaga, setidaknya tidak hilang atau berkurang. Sebab, musibah terbesar dalam ilmu bukan hanya lupa, tetapi juga melupakan (āfat al-‘ilmi an-nisyān).

Guru dan dosen kami tercinta, Ustadz Amal, telah berpulang ke raḥmatullāh empat belas hari yang lalu, tepatnya pada Sabtu, 3 Januari 2026. Dunia dakwah dan dunia akademik kembali berduka. Kepergian beliau mengguncang hati kami—para mahasiswa dan murid yang pernah belajar dan ditempa di bawah bimbingannya.

Namun di balik duka itu, kami diingatkan pada satu kenyataan agung bahwa beliau bukan sekadar pengajar bahasa Arab, melainkan juga penjaga warisan peradaban. Dengan bahasa Arab fuṣḥā, beliau menautkan akal pada kitab, menjaga ilmu agar tetap bernasab. Sebab, bahasa Arab bukan sekadar alat ucap, melainkan amanah peradaban yang beradab.

Melalui keteladanan dan keberpihakan beliau pada rujukan-rujukan berbahasa Arab, Ustadz Amal telah membentuk generasi mahasiswa yang tidak hanya belajar bahasa Arab, tetapi hidup bersama bahasa Arab. Semangat juang, ketulusan, dan keteguhan beliau dalam memuliakan ilmu—dan bahasanya—akan terus hidup dalam ingatan, karya, serta langkah para muridnya.

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *