Oleh: Pradi Khusufi Syamsu (Alumnus ISID Program Sarjana Strata 1 Pada Wisuda Sarjana XV)
Prof. Dr. KH. Amal Fathullah Zarkasyi, MA adalah salah satu dosen sekaligus pimpinan ISID pada masa kami menempuh studi di Gedung Utama ISID Gontor lantai dua. Jejak intelektualnya sangat kuat tertanam dalam ingatan kami. Sosok yang akrab kami sapa Ustadz Amal ini dikenal sebagai pendidik yang sangat konsen terhadap kualitas akademik dan kedalaman intelektual mahasiswanya. Beliau mengampu sejumlah mata kuliah inti di Fakultas Ushuluddin, khususnya dalam bidang Islamic Studies seperti Ilmu Kalam dan Filsafat Islam.
Dalam setiap perkuliahan, Ustadz Amal selalu menanamkan satu prinsip penting yang menjadi ciri khas beliau, yakni keharusan menyertakan ad-dirāsah an-naqdiyyah (studi kritis) dalam setiap makalah yang dipresentasikan mahasiswa. Studi kritis bukan sekadar pelengkap, melainkan subjudul wajib yang tidak boleh tertinggal.
Beliau sering menegaskan dengan kalimat yang masih terngiang hingga kini, Al-maqālah bi ghairi ad-dirāsah an-naqdiyyah ghairu kāmilah, makalah tanpa studi kritis adalah makalah yang tidak lengkap dan harus diperbaiki. Bahkan, dengan nada tegas namun mendidik, beliau pernah berseloroh kepada mahasiswa yang abai terhadap kritik, Lā tanjah ilā yaumil qiyāmah, kamu tidak akan pernah lulus. Ungkapan itu menunjukkan betapa seriusnya beliau memandang pentingnya studi kritis dalam dunia akademik.
Bagi Ustadz Amal, studi kritis adalah latihan intelektual (intellectual exercise) yang melatih mahasiswa untuk melihat objek kajian dari berbagai perspektif. Mahasiswa tidak boleh miskin referensi, apalagi sekadar menerima pendapat tanpa olah pikir. Kritik harus lahir dari bacaan yang luas, nalar yang jernih, dan pemahaman yang mendalam.
Pengalaman pribadi penulis semakin meneguhkan hal tersebut. Dalam mata kuliah Filsafat Islam yang beliau ampu, penulis menyusun makalah tentang pemikiran Al-Ghazali. Pada bagian ad-dirāsah an-naqdiyyah, penulis menyampaikan sejumlah kritik terhadap Al-Ghazali. Seusai presentasi dan sesi tanya jawab, Ustadz Amal menegur dengan pertanyaan yang sangat reflektif, Limādzā tantaqid Al-Ghazālī katsīran? (Mengapa kamu terlalu banyak mengkritik Al-Ghazali?).
Penulis menjawab bahwa kritik adalah bagian penting dari kajian ilmiah. Beliau pun mengangguk, lalu mengingatkan dengan penuh kebijaksanaan, ad-dirāsah an-naqdiyyah muhimmah, lākin allā taghlu fin-naqd (Studi kritis itu penting, tetapi jangan berlebihan dalam mengkritik).
Dari peristiwa itu, penulis memahami satu pelajaran besar bahwa sejatinya objektivitas, kecerdasan, dan keadilan adalah ruh kajian intelektual. Seorang mahasiswa tidak boleh menilai pemikiran tokoh ilmuwan berdasarkan like and dislike. Kejujuran harus tercermin dalam pikiran, perkataan, dan tulisan. Kritik bukan ajang menjatuhkan, melainkan sarana memahami secara proporsional.
Beliau juga kerap mengingatkan agar mahasiswa tidak serampangan dalam menggunakan pendapat seorang ilmuwan untuk mengkritik ilmuwan lain. Diperlukan ketelitian, keluasan bacaan, serta kejernihan nalar agar kritik tidak keliru dan menyesatkan.

Pengalaman-pengalaman inilah yang menjadi bekal berharga dalam perjalanan pengembaraan ilmu pengetahuan penulis hingga hari ini. Nasihat-nasihat Ustadz Amal senantiasa terpatri bahwa objektivitas dan integritas dalam mengkaji pemikiran seseorang adalah keniscayaan yang harus terus dijaga.
Guru dan dosen kami tercinta, Ustadz Amal, telah berpulang ke rahmatullah sepekan yang lalu, tepatnya pada Sabtu, 3 Januari 2026. Dunia dakwah dan dunia akademik kembali berduka. Kepergian beliau mengguncang hati kami—para mahasiswa dan murid yang pernah belajar di bawah bimbingannya.
Namun di balik duka itu, kita diingatkan pada satu fakta agung bahwa beliau adalah sosok wāḥid ka alfin—satu pribadi yang nilainya setara dengan ribuan. Ribuan kebaikan, ribuan ilmu, dan ribuan inspirasi telah beliau wariskan. Semangat juang, ketulusan, dan keteguhan beliau akan terus hidup dalam ingatan dan langkah para muridnya.
Selamat jalan guru kami, dosen kami, Ustadz Amal. Selamat berjumpa dan berkumpul bersama para nabiyyīn, ṣiddīqīn, syuhadā’, dan ṣāliḥīn. Doa kami mengiringi kepergianmu—semoga Allah SWT membalas seluruh pengabdian dan kasih sayangmu dengan sebaik-baik balasan. Āmīn.