May 1, 2026
Integritas dan Marwah

Oleh: Pradi Khusufi Syamsu (Dosen UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon)

Pada hakikatnya, integritas melekat pada setiap manusia dan merupakan bagian dari kenormalan fitrah kemanusiaan. Integritas lahir dari kebijaksanaan, dan kebijaksanaan bersumber dari pengenalan diri kepada Tuhan (makrifatullah) yang telah ditanamkan dalam diri manusia jauh sebelum ia dilahirkan ke alam dunia. Dengan demikian, integritas bukanlah sesuatu yang asing atau eksternal bagi manusia, melainkan nilai bawaan yang bersifat alamiah.

Namun, dalam realitas sosial, integritas kerap berubah menjadi ‘barang mewah’ akibat kelangkaannya dalam praktik kehidupan. Banyak orang mengetahui nilai integritas, tetapi tidak semua bersedia menjaganya ketika berhadapan dengan kepentingan, godaan, dan tekanan kekuasaan.

Integritas, secara etimologis,  berasal dari bahasa Latin integer yang berarti utuh, lengkap, tidak terpecah, dan tidak tercemar. Integritas menunjuk pada kepatuhan yang teguh terhadap seperangkat nilai, terutama nilai moral, kejujuran, dan konsistensi antara ucapan dan perbuatan. Singkatnya, integritas adalah kejujuran yang utuh dan tak terbelah.

Seiring bertambahnya peran dan jabatan yang diemban seseorang, semakin kompleks pula integritas yang harus dijaga. Ketika seseorang memimpin dirinya sendiri, prioritas integritas terletak pada pengendalian pribadi. Saat ia menjadi kepala keluarga, integritas keluarga menjadi tanggung jawab utama. Ketika ia berperan sebagai ilmuwan, integritas keilmuan harus dikedepankan. Dan ketika seseorang memimpin sebuah institusi, maka integritas institusi itulah yang harus dijaga dengan penuh kesadaran, bahkan bila harus mengorbankan kepentingan pribadi.

Di sinilah integritas berkelindan erat dengan marwah. Marwah atau muru’ah yang berasal dari bahasa Arab, bermakna kehormatan diri, kemuliaan, harga diri, martabat, dan nama baik. Integritas dan marwah memiliki hubungan sebab-akibat yang tak terpisahkan. Semakin tinggi integritas seseorang, semakin harum pula marwahnya. Marwah bukan sesuatu yang perlu dikejar, dipoles, atau direkayasa melalui pencitraan; ia lahir secara alami sebagai konsekuensi logis dari keluhuran integritas.

Jika integritas berfokus pada konsistensi kejujuran dalam perkataan dan tindakan, maka marwah berfokus pada kehormatan dan reputasi yang terpancar darinya. Orang yang berintegritas tinggi akan memancarkan marwah yang mulia dengan sendirinya. Karena itu, menjaga integritas sejatinya adalah cara paling fundamental untuk menjaga marwah diri.

Etos Integritas Jenderal Hoegeng

Sejarah bangsa mencatat sosok yang teguh menjaga integritas institusi, yakni Jenderal Hoegeng Iman Santoso. Dalam sebuah kisah yang disampaikan Rocky Gerung—berdasarkan penuturan langsung istrinya, Mariyati Roeslani—terungkap bagaimana Hoegeng memaknai integritas secara radikal dan konsisten.

Suatu ketika, Mariyati berniat pergi ke Belanda untuk menemui ayahnya. Jenderal Hoegeng melarangnya dengan alasan sederhana namun prinsipil: ia khawatir publik akan mengira perjalanan itu dibiayai oleh jabatan atau uang negara. Ketika sang istri menjelaskan bahwa biaya perjalanan berasal dari kiriman keluarganya sendiri, Hoegeng tetap menolak. Alasannya tegas, tidak semua orang akan percaya, sebab ia adalah seorang jenderal.

Sikap ini mencerminkan etos Hoegeng yang memahami bahwa satu celah kecil saja dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak menyukainya, dan pada akhirnya meruntuhkan marwah institusi kepolisian yang ia pimpin. Ia memilih mengorbankan kepentingan pribadi dan keluarga demi menjaga integritas yang lebih tinggi, yakni integritas institusi.

Hoegeng sadar bahwa integritas institusi adalah fondasi marwah. Jika integritas runtuh, marwah pun akan lenyap, dan yang tersisa hanyalah kekacauan (chaos). Dengan menjaga integritas institusi, ia sekaligus menjaga integritas dirinya. Dari sanalah marwah pribadi dan marwah institusi melekat dan bertahan pada dirinya.

Integritas Keilmuan Imam Bukhari

Jauh sebelum Hoegeng, sejarah Islam telah menghadirkan teladan integritas keilmuan melalui sosok Imam Bukhari. Dalam sebuah perjalanan laut, Imam Bukhari membawa seribu dinar emas—jumlah yang sangat besar pada masanya. Seorang penumpang yang mengetahui hal itu kemudian berpura-pura kehilangan uang dan menuduh telah terjadi pencurian.

Menyadari potensi fitnah dan tidak ingin integritasnya sebagai ilmuwan terpercaya (tsiqah) tercemar, Imam Bukhari dengan tenang membuang seluruh dinarnya ke laut sebelum penggeledahan dilakukan. Ketika tuduhan terbukti palsu, emas itu memang tidak ditemukan, dan fitnah pun gugur.

Imam Bukhari memilih kehilangan harta demi menjaga integritas keilmuan. Ia memahami betul bahwa nilai ilmu jauh melampaui nilai materi. Ia tahu bahwa kemurnian integritas ilmiah adalah fondasi kebermanfaatan ilmunya bagi umat manusia. Harta bisa dicari kembali, tetapi kepercayaan yang rusak nyaris mustahil dipulihkan.

Kisah ini menegaskan bahwa integritas pasti diuji, sebagaimana sunnatullah yang berlaku bagi setiap manusia (QS. Al-Baqarah: 155). Hanya mereka yang bersabar dan berprinsip yang mampu melewati ujian tersebut. Dengan menjaga integritas keilmuan, Imam Bukhari bukan hanya menjaga marwah dirinya, tetapi juga mengabadikan marwah ilmu hadis hingga lintas generasi.

Nilai Sejati Manusia

Pepatah mengatakan, manusia mati meninggalkan nama; gajah mati meninggalkan gading; harimau mati meninggalkan belang. Maknanya jelas, yang abadi dari seorang manusia bukanlah harta atau jabatan, melainkan reputasi, rekam jejak, dan kebermanfaatan perbuatannya.

Nama baik dibangun di atas pengetahuan yang benar (iman) dan kontribusi nyata (amal saleh). Tanpa keduanya, seseorang bukan meninggalkan nama baik, bahkan bisa meninggalkan jejak yang lebih buruk daripada makhluk yang derajatnya lebih rendah.

Nilai manusia tidak ditentukan oleh seberapa besar yang ia miliki, melainkan oleh seberapa besar yang ia berikan. Nilai manusia terletak pada kebermanfaatannya bagi sesama, bukan pada seberapa banyak manfaat yang ia kumpulkan untuk dirinya sendiri. Hanya mereka yang berpandangan luas dan jauh ke depan yang mampu menangkap nilai sejati dirinya. Pandangan sempit justru menjerumuskan manusia pada fatamorgana semu dan kepalsuan yang menyesakkan.

Pada akhirnya, integritas adalah fondasi marwah, dan marwah adalah mahkota nilai manusia. Keduanya tidak diwariskan oleh jabatan atau kekayaan, melainkan ditempa oleh konsistensi moral, keberanian berprinsip, dan kesediaan berkorban demi nilai yang lebih tinggi.

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *