May 22, 2026
Menyikapi Fenomena Skincare

Oleh: Pradi Khusufi Syamsu (Dosen UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon)

Ada sebuah fenomena kekinian yang cenderung mengkhawatirkan. Perhatian berlebihan pada tampilan kulit, sementara isi dan kedalaman diri justru terpinggirkan. Materi dan yang kasat mata dipuja, sedangkan entitas immateri —akal dan hati—kerap diabaikan. Fenomena ini tidak hanya merebak di kalangan remaja, tetapi juga merambah orang dewasa. Lebih ironis lagi, gejala serupa terjadi di lingkungan mahasiswa, kelompok yang sejatinya dipersiapkan sebagai agen perubahan dan penopang kemajuan peradaban. Waktu dan energi habis untuk mengurusi penampilan, sementara pelajaran dan pengembangan diri sering kali terabaikan. Sebuah ‘tragedi’ yang sungguh menyayat nurani.

Padahal, penuaan kulit adalah kepastian yang tak mungkin dihentikan. Ia berjalan seiring waktu dan tidak dapat dilawan. Sebaliknya, akal dan hati justru menuntut perawatan yang berkelanjutan. Keduanya harus terus diasah agar manusia mampu mencapai puncak kebijaksanaan dan tidak terperosok dalam kebingungan (confusion). Akal dan hati tidak boleh luput dari perhatian, sebab pada keduanyalah terletak tolok ukur kualitas sikap dan tindakan seorang insan. Merawat kedalaman diri, jauh lebih utama daripada sekadar merawat apa yang tampak di permukaan.

Sikap Proporsional

Memiliki kulit wajah dan tubuh yang sehat serta bersih merupakan dambaan banyak orang. Karena itu, skincare hadir sebagai ikhtiar untuk menjaga fungsi alami kulit, melindunginya dari paparan lingkungan, sekaligus membantu mengatasi masalah kulit tertentu. Namun, hal yang kerap luput dari perhatian adalah cara pemakaian yang tepat dan sikap tidak berlebihan dalam penggunaannya. Padahal, khairul umūri awsathuha—sebaik-baik perkara adalah yang dilakukan secara pertengahan.

Bersikap moderat dalam merawat kulit bukan hanya mencerminkan kebijaksanaan, tetapi juga menghadirkan ketenangan dan kenyamanan. Sebaliknya, perilaku ekstrem dalam penggunaan skincare justru berpotensi menimbulkan dampak negatif yang serius bagi kesehatan kulit. Alih-alih memperoleh kulit yang sehat dan bercahaya, rutinitas perawatan yang berlebihan dapat menyebabkan kerusakan permanen. Kulit dipaksa beregenerasi secara instan, yang pada akhirnya memicu penuaan sebelum waktunya. Bukan keindahan yang didapat, melainkan kerusakan yang berujung pada penyesalan. Maka, mengambil sikap seimbang, proporsional, dan menjauhi sikap berlebihan adalah kenormalan.

Skala Prioritas

Di tengah maraknya perhatian pada skincare—perawatan kulit demi tampilan lahiriah—ada satu hal yang jauh lebih utama dan menentukan kualitas hidup manusia, yaitu braincare dan heartcare. Merawat akal dan hati. Perhatian pada akal dan hati jauh lebih utama, karena kesempurnaan akal dan hati adalah hakikat sejati dari kesempurnaan penciptaan manusia.

Manusia sejatinya diciptakan Allah dalam bentuk yang sebaik-baiknya (ahsani taqwīm), seindah-indah rupa dan sesempurna ciptaan (QS. At-Tīn: 4). Kesempurnaan ini tidak hanya terletak pada tampilan lahiriah—pada ‘perangkat keras’ jasmaninya—melainkan juga pada ‘perangkat lunak’ yang menyertainya. Pada diri manusia tertanam potensi akal dan hati yang begitu indah dan sempurna, yang dengannya manusia mampu memahami, berbicara, mengatur, menimbang, serta bertindak secara objektif.

Rasulullah ﷺ menegaskan dimensi terdalam dari kesempurnaan tersebut melalui sabdanya: Alā wa inna fil jasadi mudhghatan, idzā shalahat shalaha al-jasadu kulluhu, wa idzā fasadat fasada al-jasadu kulluhu, alā wa hiya al-qalb (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam diri manusia terdapat segumpal daging; jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh, dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Segumpal daging itu adalah hati (al-qalb). Hati memiliki dua makna: pertama, organ fisik berupa sanubari yang terletak di dada sebelah kiri; dan kedua, entitas halus yang bersifat spiritual dan ketuhanan. Dalam makna kedua inilah hati menjadi inti dan hakikat manusia itu sendiri.

Sejalan dengan itu, akal—yang dalam bahasa Arab disebut al-‘aql—berasal dari akar kata ‘ain, qaf, dan lam, yang bermakna mengikat atau menahan. Akal merupakan potensi khas manusia untuk berpikir, mengetahui, dan menghasilkan pengetahuan; menghubungkan informasi dengan realitas; serta menahan dan mengendalikan hawa nafsu. Dengan akal, manusia tidak sekadar mengetahui, tetapi juga mampu menimbang dan mengambil keputusan secara baik dan benar.

Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa akal dan hati merupakan substansi imaterial yang menunjuk pada esensi manusia. Keduanya bersifat halus dan menjadi hakikat kemanusiaan itu sendiri. Meski disebut dengan istilah yang berbeda, akal dan hati pada dasarnya adalah satu substansi yang sama: yang menerima pengetahuan, yang berpikir, sekaligus yang menentukan arah perbuatan dan perilaku. Dengan potensi hati yang berakal inilah manusia mampu mengenal Tuhannya dan menjalankan amanah kekhalifahannya.

Atas dasar itu, merawat akal dan hati menjadi prioritas utama dalam kehidupan manusia. Perawatan ini dilakukan melalui keseimbangan antara menuntut ilmu dan pembersihan jiwa. Akal dirawat dengan membaca, belajar, berdiskusi, berfikir, dan merenung. Sementara hati dijaga melalui zikir, membaca al-Qur’an, keikhlasan, rasa syukur, serta upaya membersihkan diri dari penyakit hati seperti iri, dengki, dan dendam.

Membaca, mencari, dan menambah ilmu pengetahuan merupakan kebutuhan mendasar bagi ketangguhan akal dan kejernihan hati setiap insan. Proses-proses tersebut bukanlah kegiatan sesaat, melainkan ikhtiar berkelanjutan yang harus terus dijaga agar daya tahan akal dan hati tetap kuat. Bahkan, Islam menekankan pentingnya memohon kepada Allah agar senantiasa diberi tambahan ilmu. Rabbi zidnī ‘ilmā. Wahai Tuhanku, tambahkanlah ilmu pengetahuanku (QS. Thaha: 114). Dengan demikian, akal dan hati tidak kehilangan tenaga, tetap terjaga vitalitasnya, dan mampu melawan kelelahan hidup secara konsisten dalam kerangka ibadah vertikal dan horisontal.

Nutrisi Akal dan Hati

Sebagaimana tubuh membutuhkan nutrisi agar tetap sehat dan bertenaga, akal dan hati pun memerlukan asupan yang tepat agar tetap jernih, kuat, dan hidup. Tanpa nutrisi yang memadai, tubuh melemah. Begitu pun akal dan hati tanpa nutrisi, manusia mudah kehilangan arah, terjebak kebingungan, bahkan terperosok pada kelelahan lahir batin.

Nutrisi utama bagi akal adalah ilmu pengetahuan dan tafakkur. Akal yang terisi ilmu akan mampu membedakan yang benar dan yang salah, yang penting dan yang remeh, serta yang maslahat dan yang mudarat. Karena itu, Islam menempatkan pencarian ilmu sebagai kewajiban yang berkelanjutan tanpa terkecuali baik kecil maupun besar, muda maupun tua, kaya maupun miskin. Wahyu pertama yang diturunkan merupakan perintah menuntut ilmu dan mentafakkurinya (QS. Al-Alaq: 1-5).

Sementara itu, nutrisi hati adalah adalah ilmu dan hikmah. Di antara ilmu yang paling penting adalah ilmu agama, karena ia menjadi nutrisi yang menghidupkan hati dan menuntun manusia dalam menjalani kehidupan. Rasulullah ﷺ bersabda, Barang siapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Dia akan memahamkannya dalam urusan agama. (HR. Bukhari dan Muslim). Dengan ilmu agama, hati memperoleh arah, ketenangan, dan kemampuan membedakan jalan yang benar dari yang menyesatkan.

Adapun hikmah merupakan kehalusan rasa, ketajaman berpikir, dan makrifat kepada Allah (ma’rifatullāh), dan kondisi hati yang menjadikannya mampu mengenali dan membedakan antara yang benar dan yang salah dalam setiap perbuatan yang dipilih. Tanpa ilmu dan hikmah, hati akan melemah, sakit, bahkan mati.

Sebaliknya, hati yang terisi oleh ilmu agama dan hikmah akan senantiasa terjaga dan terlindungi. Ia terdorong untuk selalu berdzikir, serta bersih dari sifat-sifat tercela seperti dengki (hasad), pamer (riya), dan ujub. Dari hati yang sehat inilah lahir ketenangan jiwa, kejernihan sikap, dan kebijaksanaan dalam setiap tindakan.

Meneguhkan Niat

Kullu ‘amalin bin niyyāt—setiap perbuatan bergantung pada niatnya. Prinsip mendasar ini menuntun kita untuk bertanya secara jujur. Ketika seseorang merawat kulit, apa sebenarnya niat dan tujuan yang hendak dicapai? Jika tujuan perawatan semata-mata agar dinilai cakep, cantik, atau dipuji oleh orang-orang dengan standar yang tidak dibenarkan oleh syariat, maka hal itu merupakan ketidakpatutan. Niat seperti ini menjadikan perbuatan kehilangan maknanya, bahkan berubah menjadi aktivitas yang sia-sia, melelahkan, dan tak berujung. Terlebih lagi, mencari keridaan manusia adalah tujuan yang mustahil tercapai—ridhannās ghāyatun lā tudrak.

Sebaliknya, merawat kulit seharusnya diniatkan sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah Ta‘ala yang telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk dan rupa. Niat yang lurus akan melahirkan sikap dan perilaku yang lurus pula. Ia tidak menumbuhkan perasaan anā khayrun minhu—aku lebih baik darinya—tidak melahirkan riya, tidak mendorong takalluf (berlebih-lebihan), dan tidak menyisakan kesombongan dalam akal maupun hati. Tidak ada dorongan untuk merasa paling cakep, paling cantik, atau paling unggul dari yang lain.

Dengan niat yang benar, skincare menjadi sarana menjaga karunia Allah, bukan panggung untuk mencari pengakuan atau validasi diri. Keindahan pun tidak lagi bermuara pada pujian manusia, melainkan pada ketenangan jiwa yang lahir dari rasa syukur dan kerendahan hati.

Penutup

Mengutamakan perhatian dan perawatan akal dan hati merupakan sebuah keniscayaan bahkan kebutuhan bagi setiap insan. Tanpanya, kesadaran dan kebijaksanaan sulit didapatkan, keseimbangan dan ketenangan hidup makin jauh dari target dan pencapaian.

Akal yang tajam memungkinkan manusia memahami hakikat, bersikap secara tepat, dan mengambil keputusan bijak. Hati yang bersih dan terjaga mengenalkan kepada Tuhan, menumbuhkan kasih sayang, kesabaran, dan kepedulian, sehingga perilaku sehari-hari menjadi cermin kebaikan dan ketakwaan.

Dengan demikian, braincare dan heartcare adalah fondasi agar ibadah vertikal semakin bermakna, dan ibadah horizontal berefek nyata pada kehidupan manusia dan jagat raya.

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *